KENAPA DAYA SERAP SMK DI INDUSTRI RENDAH
Banyak masalah yang harus dihadapi siswa dan sekolah vokasional untuk sampai di lapangan kerja. Sementara banyak industri sulit untuk mencari tenaga kerja terampil dan bermentalitas. Masalah supply demand ini ternyata sudah berlangsung 3 dekade di Indonesia.
Beberapa SMK sudah melakukan beberapa pendekatan dengan industri, namun berbagai masalah menerpa mereka. Berikut akan kita urai apa saja permasalahan yang ditemukan di awal tahun 2018 ini;
- Kepala sekolah harus memasarkan produk nya ke ranah industri. Kesibukan dalam mengelola pelajar, tenaga pelajar, fasilitas belajar mengajar, infrastruktur sekolah sampai dengan melaporkan data ke pemerintah daerah dan departemen pendidikan sangat menyita waktu kepala sekolah. Sementara ada tugas utama yang sangat penting adalah membina hubungan dengan industri sehingga para lulusan sekolah dapat diterima ditempat kerja yang layak.
- Kesempatan magang diganggu oleh LSM. Dengan berdalih undang undang perlindungan anak, banyak LSM mengganggu proses pelatihan pelajar SMK di industri. LSM atau lebih tepat disebut oknum LSM ini melakukan pungutan liar dengan mengancam industri dan sekolah. Pada kesempatan lain oknum LSM ini akan melakukan ijon bagi para lulusan SMK untuk menjadi calon tenaga kerja. Biasanya oknum akan melakukan pungutan terhadap pekerja, orang tua pekerja dan industri.
- Beberapa kepala sekolah bahkan memakai cara cara preman untuk menekan pemilik pabrik untuk dapat menyerap para lulusannya. Memang reputasi sekolah sangat ditentukan oleh daya serap lulusan di dunia industri. Beberapa kepala sekolah yang sudah hilang akal sering menekan industri dengan berbagai cara, tanpa melihat balik apakah kualitas anak didiknya sudah mumpuni. Endorsement dari industri sangat mendukung penerimaan murid baru. Sekolah yang didukung industri akan dibanjiri pelajar. Jumlah pelajar yang tinggi sangat mempengaruhi ekonomi sekolah. Fasilitas belajar mengajar lebih lengkap. Infrastruktur sekolah lebih baik. Kualitas guru lebih baik karena kompensasi mengajar lebih tinggi. Kesempatan dan pilihan belajar siswa akan lebih banyak. Meskipun demikian biaya sekolah tidak perlu mahal.
- Industri mengalami kesulitan untuk mendirikan sekolah vokasional di daerah. Perijinan sulit dan panjang, belum lagi banyak tuntutan dari LSM lokal. Hanya sedikit industri memang berhasil membina beberapa SMK dengan memberikan pelatihan dan pengalaman belajar seiring dengan perkembangan teknologi industri.
- SMK memang menjadi pilihan kedua orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Faktor ekonomi adalah faktor utama. Faktor lain adalah kemampuan belajar dan mentalitas anak. Banyak pekerja pabrik, TKI dan keluarga broken home yang mengirim anaknya ke SMK. Dengan profil keluarga ini mentalitas anak menjadi masalah utama di sekolah. Tidak heran SMK justru lebih banyak mengajarkan soft skill (non kurikulum) kepada anak didiknya. Mentalitas dan perilaku baik memang syarat minimum untuk dapat diterima di lapangan pekerjaan.
- Kondisi ekonomi keluarga yang kurang baik ini tidak jarang memberi masalah keterlanjutan murid menyelesaikan sekolahnya. Banyak orang tua memanfaatkan bantuan sosial agar murid selesai sekolah tidak terserap dengan baik karena dana bantuan habis dipakai orang tua untuk membayar hutang. Karena orang tua murid harus menginggalkan anak dan kampung, biasanya kakek dan nenek murid menjadi pengelola dana dan pengambil keputusan belajar anak. Karena literasi keuangan, budaya dan pola pikir sederhana, banyak murid menjadi putus sekolah atau langsung membentuk keluarga padahal anak belum lagi masuk ke lapangan kerja.
- Usia kelulusan SMK belum lagi mencapai 18 tahun. 18 tahun adalah usia minimum yang disyaratkan undang undang untuk masuk ke lapangan kerja industri. Masalah ini akan lebih buruk untuk murid wanita. Jika tidak diterima oleh dunia kerja, banyak lulusan SMK terutama wanita yang langsung menikah dan memiliki anak. Kondisi ekonomi keluarga baru ini sudah pasti bermasalah. Dengan keadaan terjepit para orang tua muda ini mencari kerja jauh diluar kampung sedangkan anak ditinggal pada kakek dan neneknya. Siklus yang tidak terputus.
- Masalah geografis dapat juga membatasi industri untuk mendapatkan tenaga kerja yang cocok dengan kriteria. Kualitas guru dan fasilitas praktek menentukan ketrampilan atau hard skill siswa. Sementara iklim pendidikan sekolah menentukan mentalitas atau soft skill siswa. SMK yang baik lebih banyak berada di Jawa Barat, hal ini semata mata karena jumlah SMK ada di Jawa Barat. Sementara industri kini mulai bergeser ke provinsi lain. Jika dulu siswa magang (kelas 10 dan 11) di pabrik dalam satu kabupaten, kini belum tentu mereka dapat magang di provinsi yang sama. Tidak jarang pihak sekolah harus mencarikan tempat penginapan dan tinggal yang layak untuk siswa.
Sebagian besar masalah ini akan diselesaikan lewat dukungan teknologi. Kerja sama antara SMK dan industri bisa menjadi mudah dan singkat dengan dukungan teknologi digital. Kehadiran teknologi akan membuka mata industri akan asal usul tenaga kerja mereka, serta memberikan pilihan untuk industri membentuk, mengasah dan meningkatkan kualitas murid SMK sebelum diterima di lapangan pekerjaan. Pihak SMK seluruh Indonesia yang kini lebih dari 13000 jumlahnya, akan melihat dimana saja kebutuhan akan tenaga trampil atau yang memiliki kemampuan khusus. Diharapkan ketimpangan supply demand bukan lagi masalah jika teknologi digital didukung oleh regulasi dan mentalitas yang tepat.

Comments
Post a Comment